Perjalanan kecil -3

Part 3

Setelah menemukan tempat duduk, kita segera duduk, dan menunggu kereta melaju. Di perjalanan kereta kita merasa mengantuk akibat kelelahan, dan akhirnya aku dan Linus tertidur sebentar. Di dalam kereta aku tidak terlalu memperhatikan suasana sekitar akibat mengantuk. Waktu di dalam kereta tidak terasa, tiba – tiba sudah sampai di stasiun Bandung pintu selatan, dan kami pun bergegas untuk mempersiapkan barang bawaan masing – masing dan segera turun dari kereta.
Setelah turun dari kereta, kami pun berkumpul di depan gerbang kedatangan, karena melihat kondisi yang sedang hujan kami pun bergegas untuk menggunakan jas hujan masing – masing atau payung. Semua sibuk mencari jas hujan masing – masing dan memakainya, tetapi jas hujanku ternyata tidak ada, dan aku memaksakan untuk memakai jaket saja, dari pada tidak menggunakan apa –apa yang ada sakit. Kami di minta untuk kumpul di stasiun Bandung pintu utara, dan sekarang kami ada di pintu selatan, hal yang kita lakukan kembali adalah jalan menuju stasiun Bandung pintu utara.
Masalahku saat di beri tahu kalau kita akan kumpul di stasiun Bandung pintu utara adalah kakiku, tetapi aku akan mencoba berjalan ke stasiun Bandung pintu utara. Karena jalan di depan stasiun Bandung pintu selatan jelek –jelek, banyak yang bolong, kakiku semakin sakit dan sepertinya tergeser – geser lagi, juga aku tidak bareng dengan kelompokku karena aku tidak bisa berjalan dengan cepat, aku di temani oleh kak Olin.
Saat kakiku sudah tidak kuat berjalan di tengah perjalanan, dan kebetulan kita bertemu pangkalan angkot. Akhirnya kakak memutuskan aku untuk menaik angkot kembali. Sebelum menaik kakak menanyakan rute angkot tersebut apakah melewati stasiun Bandung pintu utara atau tidak dan bapak supir angkot tersebut menjawab iya melewatinya. Selain menanyakan rute juga menanyakan ongkosnya, bapak tersebut berkata kalau ongkos dari stasiun Bandung pintu selatan ke pintu utara 10.000 ribu per orang dan jika berdua menjadi 20.000. Awalnya kakak menawar agar bisa di kurangkan tetapi bapak tersebut berkata tidak bisa.
Aku yang mendengar ongkos dari pintu selatan ke pintu utara tidak percaya, karena hanya berputar arah saja ongkos per orangnya 10.000 ribu. Awalnya aku berkata kepada kakak agar mencari angkot lain saja, tetapi kakak bilang tidak apa – apa. Jadi kita menaiki angkot yang per orangnya 10.000, saat menaiki angkot kakiku semakin sakit juga terbawa ke polisi tidur dan semakin sakit. Setelah sampai di depan gerbang stasiun Bandung pintu utara dan membayar ongkos angkot aku langsung di bawa ke mobil untuk pulang. Awalnya aku menolak untuk langsung ke mobil dan pulang, aku ingin ke tempat kumpul terlebih dahulu dan aku bisa membeli makanan dan minuman di mini market stasiun.
Tetapi karena kakak bilang demi kesembuhan aku, agar pemulihannya lebih cepat daripada aku harus ke tempat kumpul lalu kembali ke mobil lebih banyak jalan dan kakiku nambah parah. Akhirnya aku lebih dulu pulang dari pada yang lain, kak Olin mengantarku ke mobil dan saat dekat mobil aku berpura – pura untuk tidak terlihat sehabis keseleo kepada mama ku. Tetapi karena kak Olin bilang ke mama ku kalau aku keseleo, dan lumayan parah keseleonya, banyak yang di perbincangkan. Juga kakak memberi resep obat yang di berikan oleh puskesmas, terserah mama aku mau menebusnya atau tidak. Otomatis mama aku menanyakan kepadaku kenapa bisa keseleo, dan aku menjawab tidak hati – hati, tidak terlihat ada satu anak tangga lagi yang cukup tinggi. Juga mama ku menanyakan dimana tempat kejadiannya, dan aku menjawab saat di puskesmas.
Lalu kak Olin bilang jika kaki ku masih sakit besok aku tidak perlu masuk sekolah terlebih dahulu, dan jika aku masuk aku sangat tidak di perboleh kan untuk olahraga karena besok jadwalnya di gor dan akan tambah susah jika aku masuk, beranjak dari gor ke sekolah. Banyak yang di tanyakan oleh mama aku tentang keseleo ini, ia menanyakan terus menerus bagaimana kejadian sebenarnya yang membuat aku pusing. Selain membicarakan tentang kakiku, juga membahas tentang uang yang aku bawa dan handphone ku yang masih ada di kakak dan itu adalah modusku agar aku bisa ke tempat kumpul.
Mungkin kakak tau aku ngomong begitu agar aku bisa ke tempat kumpul, dan akhirnya aku tidak jadi mengambilnya, tetapi di ambilkan oleh kakak. Setelah kakak datang kembali membawa handphone ku dan uangku aku di minta untuk istirahat yang banyak, lalu aku beranjak pergi dari stasiun. Jadi itu lah cerita dan pengalamanku saat perjalanan kecil ke 3…. Sampai berjumpa di perjalanan berikutnya….

-THE END-

Iklan

Perjalanan kecil – 3

Part 2 

….Ia menanyakan kakiku dan aku jawab kakiku keseleo jatuh dari tangga puskesmas, lalu ia bertanya kepada kak Olin apakah udah di bawa ke UGD atau sudah di tangani belum, dan kak Olin menjawab udah di bawa ke UGD tapi hanya di lihat – lihat saja. Lalu bapak tersebut bilang, kalau kakiku tidak cepat – cepat di tangani tidak bisa berjalan, aku semakin takut, tetapi bapak tersebut berkata ingin menolongku. Awal – awalnya aku sedikit ragu takut terjadi apa – apa, lalu mulai membenarkan kakiku, aku tidak melihat bagaimana ia membenarkannya, rasanya sangat sakit sekali tetapi sesudahnya aku bisa berjalan. Aku sangat kaget karena ia bisa membuatku berjalan lagi dan tidak sakit seperti tadi, lalu aku berterima kasih kepada bapak tersebut, kakak yang melihatnya juga kaget dan tidak percaya kalau aku bisa berjalan kembali dengan waktu yang sangat cepat, sesudahnya ia berkata beli counterpain saja, lalu aku dan kak Olin menuruti perintahnya
Setelah itu aku mencoba berjalan dan ikut membeli counterpain yang bapak tersebut bilang, saat jalan menuju gerbang Masjid aku bertemu kembali dengan bapak tersebut, aku dan kak Olin mengucapkan terima kasih kembali dan sedikit perbincangan, mulai dari perkenalan dan menanyakan dari kapan bapak tersebut bisa memijat atau mengurut. Nama bapak tersebut adalah Darman, diam – diam ia bisa membaca pikiranku, ia sangat tahu tentang diriku, padahal baru pertama kali kenal. Ia di temani oleh pak Ali, satpam masjid Cicalengka, pak Ali sudah lama bekerja sekitar 10 tahunan di Masjid Cicalengka tersebu, ia aslinya orang Lampung, berdekatan dengan Palembang yang berarti dekat dengan daerah asalku. Pak Ali tersebut bisa sampai ke Cicalengka dari Lampung karena ia ingin mencari profesi di luar wilayah Sumatera, juga mencari jodoh dan ia sekarang sudah menikah juga mempunyai anak. Banyak yang di obrolkan oleh pak Ali, pak Darman.
Lalu tidak lama kemudian kak Diki datang dan ikut mengobrol dengan pak Ali juga pak Darman perbincangan nya berjalan cukup lama sampai aku dan kak Olin beranjak pergi untuk membeli counterpain. Saat jalan menuju mini market aku banyak melewati pedagang kaki lima dan sekolahan, banyak makanan yang tidak sehat tetapi enak. Mulai dari goreng – gorengan, dan macam – macam makanan aneh lainnya. Pendapatku dari jajanan tersebut tidak baik karena yang seharusnya ada di depan sekolah itu makanan sehat bukan yang tidak sehat, tidak baik kepada anak – anak sekolahnya juga.
Setelah sampai di mini market aku dan kak Olin membeli counterpain, lalu kembali lagi ke check point. Di check point kak Diki rupanya masih asik mengobrol dengan pak Darman dan pak Ali, aku dan kak Olin memutuskan untuk mengoleskan counterpain pada kakiku. Tidak lama kemudian kak Diki datang, dan bergantian dengan kak Olin untuk menjagaku di check point. Suasana di check point sangat ramai, banyak orang – orang yang juga beristirahat dekat tempatku duduk, juga ada kucing yang sedang kelaparan mencari makan, dan ada pengemis yang mencari uang untuk kebutuhan sehari – harinya. Aku di sana hanya duduk beristirahat dan makan karena kelaparan. Kondisi di check point, lumayan bersih tetapi masih ada sampah yang berserakan bekas makanan kemasan.
Lama menunggu di check point, jam sudah mau menunjukan pukul 11.00 WIB, yang lain mulai berkumpul untuk beristirahat. Setelah beristirahat dan makan kecil, kita melanjutkan perjalanan di Cicalengka yaitu berkunjung ke narasumber, karena aku sudah bisa berjalan aku ikut melanjutkan perjalanan. Kali ini kita tidak di pisah per kelompok, tetapi berbarengan menuju titik tujuan, karena perjalanan menuju titik tersebut cukup jauh, kakiku mulai terasa sakit kembali. Sampai pada tujuan kita di minta untuk naik ke atas, tempat untuk kumpul. Aku juga ikut naik ke atas melewati tangga dengan hati – hati, rasa sakit pada kakiku ternyata semakin sakit tetapi tidak sesakit awal ketika aku tidak bisa berjalan.
Setelah sampai di atas kita bersalaman terlebih dahulu kepada pemilik tempat tersebut, lalu kita di minta untuk duduk. Ia memperkenalkan dirinya, nama narasumber yang kita kunjungi adalah Irfani, ia membuat sebuah kelompok atau komunitas yang bernama Senjakala Pustaka. Senjakala Pustaka tersebut di mulai pada awal tahun 2017, komunitas tersebut di buat karena Irfani dan kawan – kawan ingin mengulik wilayah Cicalengka. Mulai dari sejarah berdirinya Cicalengka hingga pahlawan – pahlawan yang pernah berjuang dan tinggal di wilayah Cicalengka.
Karena ia masih muda aku memanggilnya dengan sebutan kak Irfani, kak Irfani tersebut mulai bercerita tentang Cicalengka. Jadi dulu itu Cicalengka di setarakan oleh kota – kota atau wilayah lainnya, salah satunya Cianjur. Ada beberapa tempat bersejarah di Cicalengka, yaitu Alun – alunnya, dulu alun – alun tersebut adalah pusat pemerintahannya, juga ada Gedung Nasional, yaitu tempat untuk peristirahatan tentara, Gedung Kecamatan yaitu termasuk ke dalam bangunan bersejarah, terminal Cicalengka tempat transit rempah – rempah dan ada Arca candi Bojong koneng.
Pahlawan yang pernah ada di wilayah Cicalengka yaitu Raden Dewi Sartika, yang tinggal dengan pamannya (Raden Patih Aria), pamannya tersebut adalah pemimpin wilayah Cicalengka. Pahlawan kedua yang pernah tinggal di Cicalengka adalah Ir.h. Juanda, ia pernah bersekolah di Cicalengka. Selain mengetahui sejarah – sejarah wilayah Cicalengka, Senjakala Pustaka juga membuat kegiatan bersama warga Cicalengka, kegiatannya yang berhubungan dengan peninggalan bersejarah yang ada di Cicalengka, yaitu menjaga dan merawat peninggalan bersejarahnya.
Selain menjelaskan dan menceritakan tentang Cicalengka, kita juga diberi makanan ringan oleh kak Irfani, juga karena waktu menunjukan pukul makan siang, kita makan siang di tempat Senjakala Pustaka. Suasana saat aku datang ke tempatnya sepi, kondisi di dalam ruangan yang kita tempati lumayan bersih dan menarik karena ada lukisan – lukisan yang berjudul ‘Senjakala Pustaka’ juga ada banyak buku yang tersedia di sana, buku cerpen, dongeng, novel dan ilmu pengetahuan.
Setelah selesai makan dan melihat kondisi langit yang terlihat mendung juga keberangkatan kereta menuju Bandung yang sebentar lagi, kita memutuskan untuk beranjak ke stasiun sebelum hujan. Kita mulai berpamitan dengan kak Irfani dan mengucapkan terima kasih banyak untuk informasi yang di berikan tentang Cicalengka, juga terima kasih untuk tumpangan makannya. Setelah berpamitan kita memakai sepatu dan bergegas turun ke bawah, untuk kembali jalan ke Stasiun per kelompok. Di perjalanan menuju Stasiun kakiku mulai kembali terasa sakit, kecepatan jalanku juga semakin menurun, yang lain di minta untuk duluan oleh kakak, dan aku di temani oleh kak Olin.
Karena kakiku semakin lama semakin sakit, jika aku jalan terus sampai Stasiun tidak akan keburu, harus menunggu keberangkatan yang selanjutnya, dan Akhirnya kak Olin memutuskan agar naik angkot saja. Kita mencari angkot lalu menaikinya, angkot tersebut tidak akan berhenti tepat di depan Stasiun Cicalengkanya, jadi kita harus berjalan kembali untuk menuju Stasiun. Di perjalanan, aku bertemu dengan orang gila, karena aku takut dengan orang gila, kecepatan jalanku aku cepatkan, takut ia mengejar, dampaknya saat aku menambah lajuku kakiku semakin sakit tetapi aku tahan. Setelah sampai di Stasiun Cicalengka per kelompok membeli tiket kereta menuju Bandung, dan bergantian masuk ke ruang tunggu kereta. Suasana di stasiun sangat ramai, dan kita segera masuk ke dalam kereta saat kereta yang kita naiki sudah datang, kita bergegas untuk mencari tempat duduk kosong……
To Be Continued

Perjalanan kecil ke – 3

Part 1

Sebelum melakukan perjalanan aku mempersiapkan kelengkapan yang di bawa untuk perjalanan besar karena di perjalanan kecil ke 3 kita harus memakai dan membawa apa saja yang ingin kita bawa untuk perjalanan besar untuk mengetes keberatan tas yang kita bawa.
Pada tangga 27 Februari 2018, kelompok Dolangan melaksanakan perjalanan kecil ke 3. Sebelum perjalanan, hari kemarin per kelompok perjalanan memutuskan siapa yang menjadi time keeper, ketua kelompok, pembeli tiket. Kita di minta untuk kumpul pada jam 06.00 pagi hari di Stasiun Kiaracondong, setelah berkumpul, per kelompok perjalanan di minta untuk membeli tiket kereta menuju Cicalengka. Kelompok perjalananku yaitu, Alika dan Linus, kita di minta oleh kakak agar menaiki kereta dengan gerbong yang berbeda. Di tiket tersebut mengatakan bahwa kereta yang akan kita tumpangi akan melaju pada pukul 06.22 WIB, dan sampai pada pukul 07.02. Sebelumnya kita di beri handphone jadul untuk memberi informasi tiap kelompok, di ruang tunggu kereta kita mendapat pesan dari kakak yaitu kita di minta untuk mengecek pulsa, setelah itu kita masuk ke dalam kereta.
Di kereta kita di minta untuk mengajak ngobrol masyarakat sekitar dan memperhatikan keadaan kereta, selama perjalanan kita menikmati suasana di dalam kereta juga diluarnya, yang aku amati adalah kereta tersebut bersih, nyaman di untuk di tumpangi, sejuk karena ada AC, lalu kita bisa melihat pemandangan yang kita telusuri di kereta seperti sawah, pemukiman warga dan jalan raya. Waktu perjalanan cepat tidak kerasa kereta yang kita tumpangi ke Cicalengka sudah sampai, orang – orang bergantian turun dari kereta juga kita. Lalu kita berkumpul dekat stasiun (kedatangan) Cicalengka, setelah berkumpul, kelompok Dolangan berbareng-bareng menuju titik pertama, yaitu di Masjid besar kecamatan Cicalengka. Di Masjid tersebut kita beristirahat sebentar dan di bagikan surat tugas, setelah berdiskusi bersama kelompok tujuan pertama yang akan di kunjungi, masing – masing kelompok pergi ke tujuannya. Tujuan pertama kelompokku adalah ke Puskesmas Cicalengka, sampainya di puskesmas Cicalengka kita sedikit bingung karena sama sekali tidak ada satpam di sana, akhirnya kita memutuskan untuk foto bangunan puskesmas terlebih dahulu, lalu masuk ke dalam puskesmasnya.
Di dalam puskesmas kita bertiga mencari petugas yang tidak sibuk, setelah bertemu dengan petugasnya kita di minta untuk ke atas, ke ruang kerjanya. Tetapi kita di tolak dan akhirnya kita memutuskan untuk turun ke bawah dan melanjutkan tujuan kedua di ikuti oleh salah satu petugasnya, di dekat tangga penurun ada informasi tentang puskesmas tersebut (tahun didirikannya) lalu kita bertiga mencatatnya, yang duluan beres itu Alika, lalu Alika turun ke bawah bersama petugas puskesmasnya, dan mengobrol di bawah tangga. Setelah aku beres mencatat, aku menyusul Alika turun ke bawah secara pelan – pelan sambil memegang pegangan tangga, mungkin di akhir anak tangga aku tidak konsentrasi dan akhirnya aku terjatuh, kakiku keseleo, untungnya aku di tahan oleh Alika untuk tetap berdiri, tetapi saat itu aku tidak bisa merasakan apa – apa pada kakiku, semua peralatan yang aku bawa di lepas dari tubuhku kecuali baju dan celana.
Semua orang sekitar melihatku, tapi mereka tidak membantuku hanya menanyakan apakah baik – baik saja. Lalu aku di bopong oleh Alika ke kursi yang berada deket dari tangga, seorang ibu – ibu datang menemuiku dan memijit kakiku, tetapi aku tidak tau nama dari ibu tersebut. Saat sedang di urut, Linus atau Alika memberi kabar bahwa aku jatuh dari tangga kepada kakak, dan kakak segera menuju ke puskesmas, dan yang datang adalah kak Olin. Kak Olin memintaku untuk segera ke UGD, akhirnya aku di bopong lagi oleh kak Olin dan Alika menuju UGD. Setelah sampai UGD aku di minta untuk naik ke atas ranjang UGD, tapi karena ranjang UGD tersebut ada bercak darah aku hanya duduk di kursi. Selain berdiam diri di dalam UGD menunggu penanganan, aku mengamati kondisi UGD tersebut. Hasilnya, karena UGD adalah pertolongan pertama di puskesmas dan sekitarnya, adanya bercak darah di ranjang, di tangga untuk menaiki ranjang dan di lantai bagiku itu adalah hal yang menyeramkan, dan menjijikan. Seharusnya kondisi tersebut di amankan, setidaknya di bersihkan agar keadaan UGD bisa di nikmati dengan aman oleh korban.
Setelah dokter yang memeriksaku datang aku hanya di lihat – lihat kakinya oleh dokter tersebut dan sedikit di introgasi. Aku di minta untuk di ronsen karena keadaan dalam kaki ku dari luar tidak terlihat, masih dalam pikiran apakah aku harus di ronsen sekarang atau nanti di Bandung, dan keputusan sudah bulat aku tidak di ronsen di puskesmas Cicalengka, tetapi nanti di Bandung. Aku hanya di beri obat untuk penghilang rasa saki tetapi obat tersebut berdampak kepada orang yang terkena penyakit lambung, dan aku adalah salah satu orang yang terkena penyakit lambung. Untuk kebaikanku, obat tersebut tidak di tebus oleh kakak.
Karena aku tidak memungkinkan untuk melanjutkan perjalanan, kelompokku di pecah Alika bersama kelompok Tasha, Linus bersama kelompok Karmel dan aku bersama dengan kak Olin menunggu di check point bergantian dengan kak Diki. Setelah siap untuk berjalan menuju check point, aku lanjut berjalan dengan kaki yang pincang di bantu oleh kak Olin, juga dengan waktu yang cukup lama, sesampainya di cek poin, aku menunggu teman – teman yang lain yang akan tiba pukul 11.00 WIB bersama kak Olin, bergantian oleh kak Diki, kalau tidak salah 30 menit sekali.
Saat aku menunggu bersama kak Olin di check point, tempat pertama menunggu terkena sinar matahari dan akhirnya kita pindah menuju tempat yang lebih sejuk, beberapa menit kemudian datanglah bapak- bapak yang tidak kita kenal…..

to be continued

‘Bertamu’

Kali ini aku akan berbagi pengalaman saat bertamu ke orang yang belum aku kenal dekat. Dari rumah aku berjalan kaki menuju gerbang komplek menunggu angkot lewat dengan jurusan Banjaran – Tegalega, setelah angkot datang aku melihat di sekeliling angkot, angkot tersebut kosong dan setelah itu aku memutuskan untuk bertanya terblebih dahulu sebelum naik, aku bertanya kepada supir angkot tersebut mengenai tujuan yang akan aku datangi, apakah melewatinya atau tidak, dan supir angkot tersebut menjawab iya, aku pun segera menaiki angkot tersebut. Aku sangat jarang duduk di paling depan dan akhirnya aku memutuskan untuk duduk di paling depan.

Selama perjalanan menuju tujuanku, aku berinteraksi dengan bapak supir angkot, interaksinya sangat bentar hanya menanyakan “kenapa penumpangnya sedikit” dan ia menjawab “baru keluar rumah”. Satu per satu orang menaiki angkot yang aku tempati, jalanan terlihat lancar dan aku sampai ke tujuanku dengan cepat, aku turun dari angkot tersebut dan membayar angkotnya, ongkosnya Rp4.000 cukup mahal untuk di kabupaten Bandung. Setelah sampai pada tujuan aku berjalan memasuki gerbang komplek, dan mencari alamat rumah yang aku kunjungi, setelah menemukannya aku masuk dengan memberi salam. Ternyata di rumahnya sedang ada acara kumpul keluarga.

Aku cukup gerogi karena banyak anggota keluarga di rumahnya, aku memberi salam kepada semua anggota keluarga, dan orang yang aku ingin temui (om Zakky), aku dipersilahkan untuk duduk dan berbincang sedikit mengenai ‘Film’ karena om Zakky tersebut sangat menykai film, ia selalu mendownload film – film sendiri dan ia memberi film – film tersebut kepadaku. Selain Film, aku dan om Zakky berbincang soal sepatu, karena ia adalah penjual sepatu. Sepatu – sepatu yang ia dapat, dari kakak nya yang berada di Amerika. Aku sempat membeli sepatu dari om Zakky, sepatu yang sering aku pakai jika ke sekolah pada hari jumat, sepatu Converse berbagai motif dengan warna biru, pink, merah.

Selain berbincang aku juga di beri minum oleh om Zakky, segelas es teh manis. Setelah aku meminumnya aku berpamit pulang, karena langit sudah berwarna kelabu bertanda kalau sebentar lagi akan hujan. Aku menunggu angkot untuk pulang ke rumah dan aku menaikinya, kali ini aku tidak kebagian duduk di depan aku duduk di belakang dengan orang – orang, lalu aku turun dari angkot menuju pekarangan rumahku dan sampai….

Resensi buku wajib

Judul buku : Negeri 5 menaraimages (5)

 

Pengarang : Ahmad Fuadi

Bahasa : Indonesia

Penerbit : PT Gramedia Pusat Utama

Kota Terbit : Jakarta

Tahun Terbit : 2009

Jumlah Halaman : 423 Halaman

Di buku ini menceritakan seseorang yang bernama Alif, yang baru beres SMP ingin bersekolah di SMA, di Bandung. Tetapi ibu Alif tidak setuju, ibu Alif setuju jika Alif masuk ke pondok Madani, sebuah pesantren yang terletak di ponorogo, jawa timur. Tetapi Alif tidak mau bersekolah di pesantren tersebut, setelah di bujuk oleh amak atau ibunya Alif setuju. Setelah Alif berada dan menjalankan hidupnya di pesantren tersebut, ia sering menyendiri tetepi semakin berjalannya waktu ia mendapatkan teman. Mereka sering berbarengan, kemanapun, salah satunya mereka berenam termasuk Alif sering atau selalu berkumpul di menara masjid.

Banyak yang mereka lakukan untuk mewujudkan mimpinya atau cita -citanya, sangat banyak perjuangannya.

Amanat dari buku tersebut adalah ‘pendidikan’ kita harus bersungguh – sungguh juga bekerja keras untuk mewujudkan mimpi atau impian kita. Jangan menyerah.

Apa itu ‘Self Control’

Apa itu self control /pengendalian diri? self control adalah pengaturan proses fisik, psikologis dan perilaku. Makna dari self control tersebut, yaitu melakukan pertimbangan sebelum memutuskan sesuatu, menentukan sesuatu untuk di lakukan. Seperti saat kendali diri kita tinggi, kita akan atau seseorang akan lebih intens pengendalian tingkah laku yang ia keluarkan.

Dari self control yang kita punya, seseorang akan tahu, tingkah laku yang akan di lakukan dalam per situasi. Kita bisa melakukan self control untuk mencegah terjadi nya hal – hal yang tidak menyenangkan seperti contohnya kekerasan.

Self control per orang itu beda – beda, ada yang kuat untuk menghadapi tingkah laku seseorang berbuat jahat contohnya jika tas kita di ambil, tapi ia tidak marah ia biasa saja. Juga ada yang sangat sensitif, contohnya saat bertabrakan dengan orang lain, ia langsung memarahinya.

Jadi, kita tidak heran lagi dengan self control.

Laringitis

Laringitis adalah peradangan yang terjadi pada pita suara kita. Hal tersebut bisa terjadi akibat terlalu banyak di gunakan, karena iritasi atau karena infeksi. Di dalam pita suara tersebut terdapat tulang rawan, otot dan membran mukosa yang membentuk pintu masuknya ke dalam tenggorokan.

Di dalam kotak suara terdapat pita suara – 2 buah membran mukosa yang terlipat dua membungkus otot dan tulang rawan. Biasanya pita suara akan membuka dan menutup dengan lancar, membentuk suara melalui pergerakan dan getaran. Tapi adanya penyakit Laringitis tersebut pita suara akan meradang, atau terjadi iritasi pada pita suara, pita suara akan membengkak dan terjadi lah suara yang dikeluarkan berbeda (seperti serak), melalui udara yang masuk – keluar.

Penyakit Laringitis tersebut bisa berlangsung lama (kronis) bisa juga berlangsung beberapa waktu/ sebentar (akut). Laringitis akut juga bisa membahayakan, dari iritasi, dan suara serak tersebut bisa mengubah, terjadinya masalah yang lebih serius jika sering terjadi.

Tanda – tanda dan gejala nya, Laringitis tersebut membuat kita sering berdehem untuk membersihkan tenggorokan.

  • suara serak
  • gatal dan kasar di tenggorokan
  • sakit tenggorokan
  • tenggorokan kering

Penyebab adanya Laringitis adalah infeksi virus, yang menyebabkan akut, infeksi difteri, juga bisa dari penyakit lain atau setelah sembuh dari penyakit yang kita derita. Biasa nya Laringitis tersebut terjadi akibat kebanyakan meminum alkohol atau berlebihan, sering merokok, atau asam perut.

Laringitis bisa terjadi kepada anak – anak juga dewasa. Biasanya penyebab orang dewasa terkena Laringitis adalah

  • sariawan pada pita suara
  • bisul pada pita suara
  • faktor umur atau usia
  • cedera atau kelumpuhan pada pita suara
  • stroke
  • tumor pads paru – paru

Faktor risiko nya dari pengidap Laringitis adalah

  • infeksi pada saluran pernafasan
  • terlalu banyak berbicara dan menyanyi keras – keras